WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelanggan kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan kepada kami apapun!
Hai, apa yang bisa saya bantu?
SENTRADAYA

News

PLTS Solar sell Skala Besar Siap Dibangun

Posted on Maret 15, 2012

Jakarta, Kompas – Sharp Corporation Japan siap membangun pembangkit listrik tenaga surya kapasitas 100 megawatt dengan nilai investasi 300 juta dollar AS. Sebagai tahap awal, perusahaan itu berencana melaksanakan studi kelayakan potensi tenaga surya di Indonesia.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Kardaya Warnika menyampaikan hal itu seusai penandatanganan nota kesepahaman kerja sama pengembangan energi matahari di Indonesia, akhir pekan lalu, di Jakarta.

Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan Direktur Aneka EBT Kementerian ESDM Hasrul Laksmana Azahari, yang mewakili Kementerian ESDM, dan Executive Managing Officer and General Manager Pengembangan Bisnis Energi Matahari Sharp Corporation Motohiko Hayashi.

Penandatanganan nota kesepahaman itu untuk melakukan studi kelayakan bersama bidang energi matahari dan pemanfaatannya di Indonesia berdasarkan asas kesetaraan dan saling menguntungkan. Hal itu untuk mendapat gambaran kelayakan implementasi tenaga surya untuk pembangkit listrik.

Studi kelayakan itu direncanakan dilakukan selama 6 bulan untuk menentukan lokasi pembangunan PLTS. Hal ini disertai dengan pembangunan PLTS skala kecil 1-2 MW. Jika layak secara potensi dan keekonomian, Sharp akan membangun PLTS kapasitas 100 MW dan ditargetkan rampung dalam satu tahun.

Sementara pemerintah menyediakan data dan mempermudah izin bagi investor. ”Kami berencana memberi insentif agar investor membangun PLTS skala besar. Selama ini, PLTS yang dibangun berskala kecil,” ujarnya.

Kardaya menyatakan, kebutuhan dana pembangunan PLTS berkapasitas 1 MW mencapai 2,5-3 juta dollar AS. Sementara luas lahan yang dibutuhkan 2 hektar untuk 1 MW. Pihaknya menilai, lokasi pembangkit berbasis tenaga surya itu idealnya dibangun di daerah wisata yang butuh energi bersih.(EVY)

Produk terkait :

Lampu PJU Tenaga Surya

– PLTS SHS Tenaga Surya

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Pulau Sebatik, Kalimantan Timur. Pembangkit listrik berkapasitas 340 kilowatt peak (kWp) itu direncanakan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik diesel hingga 16 ton per bulan atau setara penghematan biaya operasi Rp 200 juta per bulan.

Demikian disampaikan Manajer Senior Komunikasi Korporat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Bambang Dwiyanto, dalam siaran pers, Kamis (15/3), di Jakarta.

Investasi yang dikeluarkan PLN untuk pembangunan PLTS Sebatik Rp 11,4 miliar. Sebelumnya, 3.244 pelanggan PLN di pulau Sebatik mendapat pasokan listrik dari PLTD Sei Nyamuk kapasitas 2.470 kilo Watt (kW) selama 24 jam.

Dengan menggunakan konsep hibrida, PLTS Sebatik memasok listrik pada siang harinya, sedangkan pada malam hari Genset memasok penuh listrik di Sebatik dengan beban puncak 1600 kW.

Hal ini dilakukan karena PLTS Sebatik belum menggunakan baterai sebagai penyimpan listrik. PLTS Sebatik dibangun di atas lahan 5.000 meter persegi, di desa Padaidi Kecamatan Sebatik Timur, Nunukan, Kalimantan Timur, dan diresmikan pengoperasiannya akhir minggu lalu oleh Direktur Operasi Indonesia Timur Vickner Sinaga bersama Pemerintah Kabupaten Nunukan.

Desain dan pembangunan fisik PLTS Sebatik dilaksanakan oleh PT Surya Energi Indotama (SEI), anak perusahaan PT LEN Industri (Persero). PT SEI juga menyelesaikan pembangunan PLTS di Lembata, NTT dan Miangas di Sulawesi Utara akhir tahun lalu.

Sedangkan lima pulau lain yang sedang dalam proses konstruksi termasuk Pulau Tioor dan Pulau Wonreli direncanakan operasi bulan April ini bersama delapan pulau lain di Maluku.

Selain itu, PLTS dibangun di pulau – pulau yang tersebar, di Papua, Papua Barat, Maluku Utara, NTB dan Sulawesi Selatan yang merupakan bagian dari Program PLTS di 100 pulau di wilayah timur Indonesia yang ditargetkan selesai 28 Oktober 2012.

Menurut Bambang, pengembangan PLTS di sejumlah pulau yang banyak tersebar di wilayah timur Indonesia, itu tidak hanya menjadikan daerah-daerah kepulauan itu terang benderang.

“Keberadaan PLTS dapat lebih mempercepat peningkatan ratio elektrifikasi, mengurangi ketergantungan pada BBM dan  menggerakkan kehidupan perekonomian masyarakat setempat,” kata dia menambahkan.

JAKARTA, KOMPAS.com- Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) pada tahun 2014 mencapai 2 Giga Watt. Untuk itu pemerintah menjajaki kerja sama dengan sejumlah investor untuk membangun PLTS di Tanah Air.

Demikian disampaikan Direktur Variasi Energi Baru dan Terbarukan Direktorat Jenderal EBT dan Konsevasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Hazrul Laksmana Azahari, Jumat (2/3/2012), di Jakarta.

Menurut peta jalan energi nasional, pemerintah menargetkan kapasitas terpasang PLTS 2 GW. Namun saat ini kapasitas terpasang PLTS baru 20 Mega Watt, dan umumnya merupakan pembangkit listrik skala kecil atau kapasitas pembangkit di bawah 10 MW.

“Kendala utama pengembangan PLTS adalah harga jual listrik yang belum sesuai keekonomian,” kata dia. Karena itu Kementerian ESDM sedang mengkaji penetapan harga khusus untuk pembangkit listrik berbasis tenaga surya dan nantinya akan dituangkan dalam aturan pelaksanaan.

Saat ini beberapa perusahaan telah menyatakan berminat untuk berinvestasi dalam proyek PLTS. Samsung, misalnya, telah menandatangani nota kesepahaman dengan Ditjen EBTKE 8 bulan lalu untuk melaksanakan studi kelayakan potensi tenaga surya dengan rencana kapasitas PLTS 50 MW.

“Ada lagi beberapa perusahaan lain seperti Toshiba. Makin banyak perusahaan yang berminat, tentu makin bagus,” kata dia. Perusahaan-perusahaan itu tertarik membangun PLTS dalam skala besar.