WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelanggan kami ada di sini untuk menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan kepada kami apapun!
Hai, apa yang bisa saya bantu?
SENTRADAYA

News

NUNUKAN,tribunkaltim.co.id– Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nunukan Abdul Azis Muhammadiyah memastikan, tahun depan seluruh kecamatan di Kabupaten Nunukan sudah terjangkau listrik.

Di Kabupaten Nunukan dari 15 kecamatan masih ada sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Krayan Selatan, Kecamatan Sebuku dan Kecamatan Lumbis Ogong yang belum tersentuh listrik dari pemerintah.

Azis mengatakan, melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2012, masyarakat di Kecamatan Krayan mendapatkan bantuan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara komunal dengan daya sebesar 17 kilowatt (KW).

“Ini bisa menjangkau hingga 117 rumah,” ujarnya, Rabu (7/12/2011).

Kecamatan Krayan Selatan dan Kecamatan Lumbis serta Kecamatan Lumbis Ogong juga mendapatkan bantuan PLTS komunal yang dananya berasal dari APBN.

“Ada juga PLTS tersebar dari APBN untuk Kecamatan Sebuku dan Kecamatan Sembakung,” katanya.

Melalui APBD Kabupaten Nunukan tahun 2012, Pemkab Nunukan juga mengalokasikan anggaran pengadaan PLTS komunal dengan daya sebesar
10 KW bagi warga di Kecamatan Lumbis Ogong.

“Ada juga untuk Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan serta Lumbis dari dana APBD II,” ujarnya.

Khusus di Kecamatan Krayan Selatan, Pemkab Nunukan melalui APBD II juga mengalokasikan anggaran pengadaan solar cell untuk Kantor Kecamatan Krayan Selatan. Hal itu untuk mendukung kelancaran program kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).

“Kalau menggunakan solar dia tidak mampu, pengadaan bahan bakarnya juga susah. Jadi kita tanggulangi dengan mengadakan solar cell minimal 5-10 KW untuk bisa online. Nanti di Kecamatan Krayan dan Lumbis Ogong juga kita adakan solar cell,” ujarnya.

Aidan Dwyer, pelajar kelas 7 asal New York menemukan sebuah alat yang dapat mengumpulkan energi listrik melalui tenaga surya.

Pembangkit listrik tenaga matahari memang bukan hal yang aneh, namun alat temuan Dwyer mampu menjaring energi listrik hingga 50% lebih besar dari pembangkit tenaga surya lainnya.

Seperti diberitakan Gizmodo, temuannya ini bermula saat dirinya tengah berjalan menyusuri hutan di musim dingin. Dwyer memperhatikan bentuk dahan di pohon-pohon yang dilaluinya. Dwyer yakin, dahan-dahan itu tidak tumbuh sembarangan, melainkan disusun mengikuti komposisi tertentu. Dia kemudian mengukur sudut tumbuhnya dahan dan menemukan teori yang mengejutkan. Dahan-dahan pohon rupanya tumbuh mengikuti bilangan Fibonacci.

Bilangan Fibonacci merupakan baris angka yang diperoleh dari penambahan dua angka sebelumnya, seperti 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, dan seterusnya.

Deret bilangan ini pertama kali digunakan Gopala dan Hemachandra, matematikawan asal India di tahun 1150.

Terkejut dengan temuannya sendiri, Dwyer lalu mencari tahu apa pengaruhnya. Rupanya dengan susunan semacam itu, pohon mampu meresap sinar matahari lebih banyak bagi pertumbuhan dahannya.

Dwyer melanjutkan temuannya dengan membuat sebuah eksperimen. Dwyer membuat dua model panel solar, yang pertama dengan konsep tradisional dengan panel yang ditempatkan dalam susunan sejajar, dan yang lainnya mengikuti deret Fibonacci.

“Panel dengan desain seperti pohon mengumpulkan listrik 20% lebih banyak dan lebih lama 2,5 jam di siang hari,” ungkap Dwyer kepada American Museum of Natural History.

Hasil yang lebih mengejutkan didapat di bulan Desember, saat matahari berada di titik terendah di langit. Panel surya dengan bentuk pohon menghasilkan listrik 50% lebih banyak dan pengumpulan sinar 50 persen lebih lama.

“Hal terbaik yang saya dapat dari hal ini ialah walau di hari tergelap di musim dingin sekalipun, alam tetap menunjukkan rahasianya,” tandas Dwyer.

Sumbernya http://notifikasiku.blogspot.com/2012/01/anak-13-tahun-temukan-pembangkit.html#ixzz1lcI34A9i