Cara Kerja UPS Modular 600 kVA untuk Melindungi Beban Kritis Data Center

Cara Kerja UPS Modular 600 kVA untuk Melindungi Beban Kritis Data Center

Data center membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan tersedia selama 24 jam. Gangguan listrik dalam hitungan detik dapat menghentikan server, memutus komunikasi, mengganggu transaksi, merusak perangkat, hingga menyebabkan kehilangan data penting. Karena itu, sistem kelistrikan data center tidak cukup hanya mengandalkan PLN dan genset.

Genset membutuhkan waktu untuk menyala dan mencapai tegangan serta frekuensi yang stabil. Selama masa transisi tersebut, diperlukan UPS modular 600 kVA untuk menjaga server dan perangkat kritis tetap beroperasi tanpa terputus.

UPS bukan sekadar sumber listrik cadangan. Perangkat ini juga berfungsi memperbaiki kualitas daya, menjaga kestabilan tegangan, mengurangi pengaruh gangguan jaringan, dan menyediakan suplai sementara ketika sumber utama tidak tersedia.

Salah satu sistem yang dapat digunakan adalah UPS Riello Multi Power2 dengan kapasitas nominal 600 kVA/600 kW. Sistem ini menggunakan arsitektur modular, sehingga kapasitas dan tingkat redundansinya dapat dirancang berdasarkan kebutuhan fasilitas.

Artikel ini menjelaskan cara kerja UPS modular 600 kVA, fungsi setiap komponen, proses ketika PLN padam, peran baterai dan genset, serta penerapan redundansi untuk melindungi beban kritis data center.

Apa Itu UPS Modular 600 kVA?

UPS modular 600 kVA adalah uninterruptible power supply berkapasitas besar yang sistem dayanya dibentuk dari beberapa power module. Seluruh modul bekerja secara terkoordinasi untuk menyuplai beban sebagai satu kesatuan sistem.

Pada UPS monoblock, komponen konversi daya umumnya berada dalam satu unit utama dengan kapasitas yang sudah ditentukan. Sementara itu, UPS modular menyediakan sejumlah slot yang dapat diisi power module sesuai kapasitas yang dibutuhkan.

Sebagai contoh, UPS Riello Multi Power2 600 kVA dapat dikonfigurasikan menggunakan sembilan power module kelas 67 kW. Total kapasitas modulnya sekitar 603 kW dan diposisikan sebagai sistem nominal 600 kVA/600 kW pada faktor daya output 1.

Konfigurasi aktual tetap harus mengikuti hasil perhitungan beban, kapasitas kabinet, kebutuhan redundansi, serta rekomendasi teknis produsen.

Arsitektur modular memberikan beberapa keuntungan:

  • Kapasitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual.
  • Penambahan daya dapat dilakukan ketika beban berkembang.
  • Modul dapat diganti dengan waktu penghentian minimal.
  • Sistem dapat dirancang menggunakan redundansi N+1.
  • Pemeliharaan lebih mudah dan terarah.
  • Ketersediaan sistem dapat ditingkatkan.
  • Investasi awal dapat disesuaikan dengan perkembangan fasilitas.

UPS modular banyak digunakan pada data center karena jumlah server dan perangkat jaringan dapat bertambah dari waktu ke waktu. Pengelola tidak selalu harus memasang kapasitas maksimum pada tahap awal, selama kabinet dan infrastruktur pendukung telah dirancang untuk pengembangan berikutnya.

Mengapa Data Center Memerlukan UPS Online Double-Conversion?

Data center menggunakan berbagai perangkat elektronik sensitif, seperti server, storage, network switch, firewall, perangkat komunikasi, sistem keamanan, serta perangkat monitoring. Peralatan tersebut membutuhkan suplai listrik dengan tegangan dan frekuensi yang stabil.

Gangguan yang dapat terjadi pada jaringan listrik meliputi:

  • Pemadaman total.
  • Penurunan tegangan.
  • Kenaikan tegangan.
  • Fluktuasi frekuensi.
  • Lonjakan tegangan.
  • Noise listrik.
  • Distorsi harmonisa.
  • Ketidakseimbangan fasa.
  • Gangguan saat perpindahan dari PLN menuju genset.

UPS dengan topologi online double-conversion memproses energi listrik melalui dua tahap konversi. Listrik AC dari sumber diubah menjadi DC oleh rectifier, kemudian diubah kembali menjadi AC oleh inverter.

Karena beban mendapatkan suplai dari inverter secara terus-menerus, gangguan pada sumber listrik tidak langsung diteruskan kepada perangkat kritis. Sistem ini termasuk dalam klasifikasi VFI atau Voltage and Frequency Independent.

Untuk melihat konfigurasi, spesifikasi, dimensi kabinet, serta aplikasinya secara menyeluruh, baca artikel pilar UPS Riello 600 kVA Modular untuk Data Center dan Industri.

Komponen Utama UPS Modular 600 kVA

Cara kerja UPS modular dapat dipahami dengan mengenali komponen utamanya. Setiap bagian mempunyai fungsi berbeda, tetapi bekerja sebagai satu sistem terpadu.

Rectifier

Rectifier menerima listrik AC dari PLN atau genset, kemudian mengubahnya menjadi listrik DC. Energi DC tersebut digunakan untuk menyuplai DC bus, memberikan energi kepada inverter, dan mempertahankan kondisi baterai.

Rectifier modern dirancang dengan pengendalian elektronik sehingga proses konversi berlangsung lebih efisien. Pada sistem UPS Riello Multi Power2, faktor daya input dapat mencapai 0,99 dan THDi input kurang dari 3%.

Faktor daya input yang tinggi membantu sistem memanfaatkan sumber listrik secara lebih efektif. Sementara itu, THDi yang rendah membantu mengurangi distorsi arus pada jaringan, transformator, genset, dan panel distribusi.

DC Bus

DC bus adalah jalur listrik DC yang menghubungkan rectifier, baterai, dan inverter. Ketika sumber listrik normal, rectifier memberikan energi kepada DC bus. Ketika sumber listrik padam, baterai mengambil alih suplai energi menuju jalur tersebut.

Keberadaan DC bus memungkinkan inverter tetap mendapatkan energi meskipun sumber listrik utama mengalami gangguan.

Inverter

Inverter mengubah listrik DC menjadi listrik AC yang stabil dan terkontrol. Output inverter inilah yang digunakan untuk menyuplai server dan perangkat kritis.

Pada sistem online double-conversion, inverter bekerja secara terus-menerus. Beban tidak menunggu perpindahan dari sumber PLN menuju inverter ketika terjadi pemadaman karena sejak kondisi normal suplai sudah berasal dari inverter.

Sistem Baterai

Baterai menyimpan energi yang digunakan ketika rectifier tidak memperoleh sumber listrik. Kapasitas baterai menentukan berapa lama UPS dapat mempertahankan beban sebelum genset mengambil alih atau sebelum sistem melakukan shutdown secara aman.

UPS Riello Multi Power2 dapat mendukung beberapa teknologi penyimpanan energi, antara lain:

  • VRLA
  • NiCd
  • Lithium-ion
  • Supercapacitor

Pemilihan teknologi baterai harus mempertimbangkan durasi backup, ruang yang tersedia, temperatur, umur desain, frekuensi pemadaman, biaya investasi, dan kebutuhan pemeliharaan.

Power Module

Power module merupakan bagian utama dalam arsitektur UPS modular. Setiap modul memiliki rangkaian daya yang berkontribusi terhadap kapasitas total sistem.

Pembagian beban antar-power module dikendalikan secara otomatis. Jika kapasitas beban meningkat, sistem dapat menggunakan lebih banyak modul selama konfigurasi dan kapasitas kabinet mendukung.

Static Bypass

Static bypass menyediakan jalur alternatif dari sumber bypass menuju beban. Jalur ini digunakan ketika inverter mengalami overload, gangguan tertentu, atau kondisi lain yang memenuhi parameter perpindahan.

Perpindahan melalui static bypass berlangsung sangat cepat. Namun, saat beban berada pada bypass, perlindungan double-conversion tidak bekerja dengan cara yang sama seperti ketika beban disuplai inverter.

Maintenance Bypass

Maintenance bypass membantu teknisi mengisolasi sistem UPS untuk keperluan pemeriksaan atau pemeliharaan. Pengoperasiannya harus mengikuti prosedur yang benar karena kesalahan urutan dapat menyebabkan gangguan suplai maupun risiko keselamatan.

Diagram Alur Kerja UPS Modular

Aliran energi dalam kondisi normal dapat disederhanakan sebagai berikut:

PLN atau genset ? rectifier ? DC bus ? inverter ? beban kritis

Baterai terhubung pada DC bus dan berada dalam kondisi siap digunakan.

Sementara itu, jalur bypass dapat digambarkan sebagai:

Sumber bypass ? static bypass ? beban kritis

Jalur bypass bukan jalur utama dalam operasi online normal. Beban tetap dipasok oleh inverter selama seluruh parameter sistem berada dalam kondisi yang ditentukan.

Cara Kerja UPS Saat PLN Normal

Ketika PLN berada dalam kondisi normal, proses kerja UPS berlangsung melalui tahapan berikut:

  1. Listrik AC dari PLN masuk menuju input UPS.
  2. Rectifier mengubah listrik AC menjadi DC.
  3. Energi DC dialirkan menuju DC bus.
  4. DC bus menyuplai inverter.
  5. Inverter mengubah DC menjadi AC yang stabil.
  6. Output inverter disalurkan menuju beban kritis.
  7. Baterai dipertahankan pada kondisi pengisian yang telah ditentukan.

Walaupun PLN tersedia, server tidak disuplai langsung dari jaringan utama. Beban tetap memperoleh listrik yang telah diproses oleh rectifier dan inverter.

Proses tersebut membantu menjaga output dari gangguan tegangan maupun frekuensi yang dapat berasal dari jaringan.

Cara Kerja UPS Saat Tegangan PLN Tidak Stabil

Ketika tegangan PLN turun, naik, atau mengalami fluktuasi, rectifier berusaha tetap beroperasi selama kondisi input masih berada dalam rentang toleransi UPS.

UPS Riello Multi Power2 mempunyai rentang tegangan input referensi hingga 240–480 V pada kondisi tertentu. Kemampuan aktual tetap bergantung pada kondisi operasional dan konfigurasi sistem.

Rectifier menyesuaikan proses konversi, sementara inverter menjaga output tetap stabil. Beban tidak langsung menerima perubahan tegangan dari sumber karena listrik telah diproses melalui sistem double-conversion.

Jika kondisi input keluar dari batas yang dapat diterima, baterai akan mengambil alih suplai DC bus. Inverter tetap bekerja dan mempertahankan suplai menuju beban.

Untuk memahami perbedaan struktur, kemampuan pengembangan, dan metode pemeliharaannya, baca Perbedaan UPS Modular dan UPS Monoblock: Mana yang Tepat untuk Industri?.

Cara Kerja UPS Saat PLN Padam

Ketika PLN padam, rectifier tidak lagi memperoleh suplai listrik. Sistem baterai kemudian menyediakan energi kepada DC bus secara otomatis.

Urutan prosesnya adalah:

  1. PLN mengalami pemadaman.
  2. Rectifier berhenti menerima sumber listrik.
  3. Baterai menyuplai energi menuju DC bus.
  4. Inverter tetap mengubah DC menjadi AC.
  5. Beban kritis tetap memperoleh suplai listrik.
  6. UPS mengaktifkan alarm dan mencatat kejadian.
  7. Genset menerima perintah untuk menyala jika tersedia.

Karena inverter sudah bekerja sejak kondisi normal, perpindahan sumber energi dari rectifier ke baterai tidak memerlukan perpindahan output dari PLN langsung menuju inverter. Hal inilah yang membuat UPS online cocok untuk server dan perangkat sensitif.

Durasi suplai baterai ditentukan oleh kapasitas baterai dan besarnya beban aktual. UPS 600 kVA tidak selalu bekerja pada beban penuh. Karena itu, perhitungan backup harus menggunakan data beban dalam kW, bukan hanya rating maksimum UPS.

Jika genset tidak tersedia atau gagal menyala, UPS akan terus menggunakan baterai hingga mencapai batas tegangan yang telah ditentukan. Sistem monitoring dapat memberikan peringatan agar server menjalankan prosedur shutdown secara aman sebelum energi baterai habis.

Cara Kerja UPS Ketika Genset Menyala

Dalam fasilitas data center, baterai biasanya berfungsi sebagai jembatan sampai genset siap menyuplai beban.

Tahapan kerjanya adalah:

  1. PLN padam.
  2. UPS menggunakan energi baterai.
  3. Automatic mains failure atau sistem kontrol memberikan perintah start kepada genset.
  4. Mesin genset mulai bekerja.
  5. Tegangan dan frekuensi genset mencapai batas stabil.
  6. Automatic transfer switch memindahkan sumber menuju genset.
  7. Rectifier UPS menerima sumber AC dari genset.
  8. Rectifier kembali menyuplai inverter.
  9. Baterai memasuki proses pengisian ulang.

Kesesuaian antara UPS dan genset sangat penting. Genset harus mampu menangani beban UPS, kebutuhan pengisian baterai, sistem pendingin, serta beban darurat lainnya.

Faktor yang perlu diperhatikan meliputi:

  • Kapasitas alternator.
  • Kemampuan respons governor.
  • Stabilitas tegangan.
  • Stabilitas frekuensi.
  • Beban harmonisa.
  • Faktor daya.
  • Urutan penyalaan beban.
  • Pengaturan soft-start rectifier.
  • Besarnya arus pengisian baterai.
  • Perubahan beban secara mendadak.

Genset yang terlalu kecil dapat mengalami fluktuasi frekuensi ketika rectifier mulai mengambil daya. Kondisi tersebut dapat membuat UPS berulang kali menerima dan menolak sumber genset.

Fungsi Static Bypass pada UPS Modular

Static bypass berfungsi menyediakan jalur suplai alternatif jika inverter tidak dapat mendukung beban dalam kondisi tertentu.

Perpindahan menuju bypass dapat terjadi karena:

  • Beban melebihi kemampuan inverter.
  • Terjadi gangguan pada modul daya.
  • Temperatur sistem melewati batas.
  • Terjadi hubung singkat di sisi output.
  • Sistem menerima perintah perpindahan.
  • Output inverter tidak memenuhi parameter.

Sumber bypass harus mempunyai urutan fasa, tegangan, dan frekuensi yang sesuai. Jika sumber bypass berada di luar batas sinkronisasi, perpindahan dapat dibatasi untuk melindungi sistem.

Saat UPS beroperasi pada bypass, beban menerima suplai dari sumber bypass. Karena energi tidak diproses melalui inverter, kualitas perlindungannya berbeda dari kondisi online double-conversion.

Oleh sebab itu, alarm bypass harus segera diperiksa. Operasi bypass berkepanjangan dapat mengurangi tingkat perlindungan terhadap gangguan jaringan.

Apa yang Terjadi Jika Satu Power Module Mengalami Gangguan?

Dalam UPS modular, total beban dibagi di antara power module yang aktif. Ketika salah satu modul mengalami gangguan, sistem akan menonaktifkan atau mengisolasi modul tersebut sesuai desain dan kondisi operasional.

Jika kapasitas modul yang tersisa masih lebih besar daripada beban, UPS dapat terus menyuplai beban. Namun, jika sistem beroperasi tanpa kapasitas cadangan dan satu modul tidak tersedia, kapasitas total UPS akan berkurang.

Di sinilah peran redundansi N+1 menjadi penting. Pada konfigurasi ini, jumlah modul yang dipasang memiliki satu modul tambahan di luar kebutuhan minimum untuk mendukung beban.

Contoh sederhana:

  • Kebutuhan beban: 500 kW
  • Kapasitas setiap modul: kelas 67 kW
  • Delapan modul memberikan kapasitas teoritis sekitar 536 kW
  • Sembilan modul menyediakan satu tingkat cadangan tambahan dibandingkan kebutuhan delapan modul

Perhitungan tersebut hanya contoh konseptual. Desain sebenarnya harus mempertimbangkan derating, karakteristik beban, rekomendasi produsen, kondisi lingkungan, kapasitas kabinet, dan proyeksi pertumbuhan.

Pembahasan teknis lebih mendalam tersedia dalam artikel Redundansi N+1 pada UPS Modular: Pengertian, Manfaat, dan Contoh Konfigurasi.

Contoh Konfigurasi UPS Riello 600 kVA Modular

UPS Riello Multi Power2 dapat digunakan sebagai referensi sistem modular untuk kebutuhan daya besar.

Parameter Spesifikasi Referensi
Kapasitas nominal 600 kVA/600 kW
Konfigurasi modul 9 × power module kelas 67 kW
Total kapasitas modul Sekitar 603 kW
Faktor daya output 1
Topologi Online double-conversion VFI
Tegangan input 380/400/415 V, tiga fasa + netral
Tegangan output 380/400/415 V, tiga fasa + netral
Frekuensi 50/60 Hz
Faktor daya input 0,99
THDi input Kurang dari 3%
Stabilitas output ±1%
Efisiensi online Hingga 98,1%
Kemampuan paralel Hingga 4 unit
Proteksi kabinet IP20
Suhu operasional 0°C hingga +40°C
Kelembapan 5–95% tanpa kondensasi

Kemampuan paralel hingga empat unit memungkinkan sistem dikembangkan untuk memperoleh kapasitas atau tingkat redundansi yang lebih tinggi. Implementasinya membutuhkan desain komunikasi, distribusi daya, bypass, dan koordinasi proteksi yang sesuai.

Cara UPS Melindungi Peralatan Data Center

Server dan storage

UPS menjaga server dan media penyimpanan tetap beroperasi ketika PLN padam. Waktu backup memberikan kesempatan kepada genset untuk menyala atau kepada sistem untuk melakukan shutdown secara aman.

Network switch dan perangkat komunikasi

Kehilangan suplai pada perangkat jaringan dapat memutus komunikasi antarsistem meskipun server masih aktif. Karena itu, perangkat jaringan penting harus masuk dalam kelompok beban yang dilindungi.

Sistem keamanan

Access control, CCTV, alarm, dan sistem keamanan data center memerlukan suplai yang berkesinambungan, terutama ketika terjadi kondisi darurat.

Sistem monitoring

Perangkat environmental monitoring, building management system, dan data center infrastructure management membutuhkan daya agar operator tetap dapat memantau temperatur, kelembapan, alarm, serta status kelistrikan.

Pendinginan kritis

Sebagian sistem pendingin dapat dimasukkan ke kelompok beban UPS, sedangkan sebagian lainnya menggunakan suplai genset. Keputusan ini harus didasarkan pada kebutuhan termal, durasi backup, kemampuan genset, dan desain fasilitas.

UPS tidak selalu digunakan untuk menyuplai seluruh sistem pendingin karena kebutuhan dayanya besar. Namun, kontrol pendingin, pompa tertentu, atau perangkat pendukung dapat diprioritaskan sesuai analisis risiko.

Faktor yang Menentukan Durasi Backup

Durasi backup adalah waktu UPS dapat menyuplai beban menggunakan energi baterai. Penentuannya tidak boleh hanya menggunakan kapasitas nominal UPS.

Data yang diperlukan meliputi:

  1. Beban aktual dalam kW.
  2. Target waktu backup.
  3. Tegangan DC sistem.
  4. Efisiensi inverter.
  5. Jenis baterai.
  6. Tegangan cut-off.
  7. Kapasitas setiap blok baterai.
  8. Jumlah string baterai.
  9. Temperatur ruang.
  10. Faktor penuaan.
  11. Margin keselamatan.
  12. Pertumbuhan beban.

Sebagai contoh, kebutuhan backup lima menit untuk menjembatani proses start genset akan menghasilkan konfigurasi baterai berbeda dari backup 30 menit atau satu jam.

Baterai VRLA mempunyai karakteristik pelepasan yang berbeda dari lithium-ion. Karena itu, perhitungan harus menggunakan tabel performa atau discharge data dari produsen baterai.

Panduan perhitungan lebih lengkap dapat dipelajari melalui artikel Cara Menghitung Kebutuhan Baterai UPS 600 kVA Berdasarkan Durasi Backup.

Pentingnya Sistem Monitoring

UPS modular membutuhkan sistem monitoring agar kondisi modul, baterai, input, output, bypass, dan alarm dapat diketahui secara real time.

Parameter yang perlu dipantau antara lain:

  • Tegangan input dan output.
  • Frekuensi.
  • Persentase beban.
  • Status power module.
  • Efisiensi.
  • Tegangan DC.
  • Kondisi baterai.
  • Estimasi waktu backup.
  • Temperatur.
  • Status bypass.
  • Riwayat alarm.
  • Riwayat kejadian.

Monitoring jarak jauh membantu tim fasilitas merespons gangguan lebih cepat. Integrasi dapat dilakukan dengan building management system atau platform monitoring lain melalui perangkat dan protokol komunikasi yang kompatibel.

Alarm harus diklasifikasikan berdasarkan tingkat urgensinya. Alarm kritis memerlukan respons segera, sedangkan alarm peringatan dapat digunakan sebagai dasar penjadwalan pemeliharaan.

Persiapan Instalasi UPS Modular 600 kVA

UPS berkapasitas besar memerlukan perencanaan ruang dan infrastruktur yang matang. Beberapa aspek yang harus diperiksa meliputi:

Ruang dan akses

Kabinet harus dapat melewati pintu, koridor, lift barang, dan jalur menuju ruang UPS. Periksa dimensi, bobot, radius belok, serta kapasitas lantai.

Dimensi referensi satu kabinet daya MP2 500 adalah sekitar 600 × 870 × 1.997 mm. Susunan akhir sistem 600 kVA mengikuti konfigurasi proyek.

Ventilasi dan pendinginan

Panas yang dihasilkan UPS harus dikeluarkan dari ruangan. Sistem pendingin perlu dihitung berdasarkan rugi daya UPS, baterai, panel, dan kondisi lingkungan.

Panel dan proteksi

Panel input, bypass, output, serta baterai harus menggunakan breaker yang sesuai. Koordinasi proteksi diperlukan agar gangguan lokal tidak memadamkan seluruh sistem.

Kabel daya

Ukuran kabel ditentukan berdasarkan arus, panjang jalur, metode pemasangan, temperatur, pengelompokan kabel, kapasitas hubung singkat, dan batas penurunan tegangan.

Grounding

Grounding yang baik penting untuk keselamatan, kestabilan sistem, dan kinerja proteksi. Nilai tahanan grounding harus mengikuti desain serta standar yang berlaku pada fasilitas.

Sistem baterai

Kabinet atau rak baterai harus ditempatkan di ruang yang aman, berventilasi, mudah diperiksa, dan mempunyai temperatur terkontrol.

Untuk mempersiapkan pekerjaan secara menyeluruh, baca Panduan Instalasi UPS Riello Kapasitas Besar untuk Data Center dan Pabrik.

Data yang Dibutuhkan Sebelum Menentukan UPS

Sebelum menetapkan konfigurasi UPS modular 600 kVA, siapkan data berikut:

  • Daftar beban yang akan dilindungi.
  • Kapasitas beban aktual.
  • Beban maksimum.
  • Faktor daya.
  • Karakteristik beban.
  • Arus starting.
  • Tegangan sistem.
  • Durasi backup.
  • Ketersediaan genset.
  • Kapasitas genset.
  • Target redundansi.
  • Proyeksi pertumbuhan beban.
  • Kondisi panel utama.
  • Layout ruang UPS.
  • Sistem pendinginan.
  • Jalur kabel.
  • Sistem grounding.
  • Kebutuhan monitoring.

Data tersebut digunakan untuk menentukan jumlah modul, kapasitas baterai, ukuran kabel, breaker, panel bypass, kebutuhan pendinginan, dan metode instalasi.

Pemeliharaan UPS Modular

Arsitektur modular memudahkan proses pemeliharaan, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan pemeriksaan berkala.

Program pemeliharaan dapat meliputi:

  • Pemeriksaan status power module.
  • Pemeriksaan kipas.
  • Pembersihan kabinet dan filter.
  • Pemeriksaan terminal kabel.
  • Pengujian fungsi static bypass.
  • Pengujian maintenance bypass.
  • Pemeriksaan kapasitor.
  • Pemeriksaan temperatur.
  • Pengujian alarm dan komunikasi.
  • Pengukuran tegangan baterai.
  • Pengukuran impedansi internal baterai.
  • Pemeriksaan log kejadian.
  • Pengujian simulasi kegagalan sumber.
  • Pemeriksaan sistem pendingin.

Frekuensi pemeriksaan harus disesuaikan dengan tingkat kritikal fasilitas, kondisi lingkungan, jam operasi, serta rekomendasi produsen.

Kesimpulan

Cara kerja UPS modular 600 kVA didasarkan pada teknologi online double-conversion. Rectifier mengubah listrik AC menjadi DC, DC bus menghubungkan sumber dengan baterai dan inverter, kemudian inverter menghasilkan listrik AC yang stabil untuk beban kritis.

Ketika PLN padam, baterai langsung menyuplai DC bus sehingga inverter tetap beroperasi tanpa jeda perpindahan yang berarti. Setelah genset menghasilkan tegangan dan frekuensi stabil, rectifier kembali mengambil energi dari sumber AC dan baterai mulai diisi ulang.

Arsitektur modular memberikan fleksibilitas dalam pengaturan kapasitas, pemeliharaan, serta redundansi. Namun, jumlah power module, kapasitas baterai, integrasi genset, panel, kabel, pendinginan, dan grounding tetap harus dirancang berdasarkan data beban serta kondisi lokasi.

UPS Riello Multi Power2 600 kVA dapat dikonfigurasikan menggunakan sembilan power module kelas 67 kW dengan kapasitas terpasang sekitar 603 kW. Konfigurasi final perlu diverifikasi berdasarkan kebutuhan operasional dan rekomendasi produsen.

DBSN Group melalui Sentradaya melayani konsultasi UPS industri dan data center, perencanaan sistem baterai, survei lokasi, pemasangan, commissioning, serta pemeliharaan.

Konsultasikan kebutuhan UPS modular 600 kVA untuk proyek Anda melalui WhatsApp DBSN Group atau kunjungi www.sentradaya.com.


spesifikasi Riello Modular

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *