Cara Menghitung Kapasitas Baterai LiFePO4 untuk PLTS Hybrid dalam kWh
Kapasitas baterai merupakan salah satu faktor penting dalam perencanaan PLTS hybrid. Jika kapasitas terlalu kecil, energi yang tersimpan mungkin tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan malam hari atau saat listrik padam. Sebaliknya, kapasitas yang terlalu besar dapat meningkatkan biaya investasi tanpa memberikan manfaat yang sebanding dengan kebutuhan.
Untuk memilih baterai yang sesuai, pengguna perlu memahami hubungan antara tegangan baterai, kapasitas ampere-hour (Ah), energi kilowatt-hour (kWh), Depth of Discharge (DoD), dan efisiensi inverter.
Sebagai contoh, baterai LiFePO4 51,2V 220Ah memiliki energi nominal sebesar 11,264 kWh, sedangkan baterai 48V 200Ah memiliki energi nominal sebesar 9,6 kWh. Namun, energi nominal tersebut belum seluruhnya menjadi energi listrik AC yang dapat digunakan oleh peralatan.
Artikel ini akan membahas cara menghitung kapasitas baterai LiFePO4 untuk PLTS hybrid, lengkap dengan contoh kebutuhan rumah dan usaha, simulasi waktu backup, serta cara menentukan jumlah baterai.
Apa Itu Kapasitas Baterai dalam Ah dan kWh?
Saat melihat spesifikasi baterai, Anda biasanya menemukan dua angka utama, misalnya:
51,2 V 220 Ah
Angka tersebut terdiri atas:
- 51,2 V: tegangan nominal baterai.
- 220 Ah: kapasitas nominal dalam ampere-hour.
Kapasitas dalam Ah menunjukkan besarnya muatan listrik nominal. Untuk mengetahui perkiraan jumlah energi yang tersimpan, angka Ah perlu dikalikan dengan tegangan nominal.
Energi listrik baterai biasanya dinyatakan dalam:
- Wh: watt-hour.
- kWh: kilowatt-hour.
Hubungannya adalah:
1 kWh = 1.000 Wh
Sebagai gambaran, energi sebesar 1 kWh secara sederhana setara dengan penggunaan beban 1.000 watt selama satu jam atau beban 100 watt selama sepuluh jam. Dalam praktiknya, penggunaan baterai dipengaruhi oleh efisiensi dan batas operasional sistem.
Mengapa Ah saja belum cukup untuk membandingkan baterai?
Dua baterai dengan kapasitas Ah yang sama belum tentu menyimpan energi yang sama.
Sebagai contoh:
| Baterai | Tegangan nominal | Kapasitas | Energi nominal |
|---|---|---|---|
| Baterai A | 12,8 V | 100 Ah | 1,28 kWh |
| Baterai B | 25,6 V | 100 Ah | 2,56 kWh |
| Baterai C | 51,2 V | 100 Ah | 5,12 kWh |
Ketiganya memiliki kapasitas 100 Ah, tetapi energi nominalnya berbeda karena tegangannya berbeda.
Oleh sebab itu, ketika membandingkan baterai untuk PLTS hybrid, gunakan kWh untuk memahami kapasitas penyimpanan energinya.
Rumus Menghitung Kapasitas Baterai LiFePO4 dalam kWh
Rumus dasar yang dapat digunakan adalah:
Energi nominal baterai (kWh) = tegangan nominal (V) × kapasitas baterai (Ah) ÷ 1.000
Contoh:
Sebuah baterai memiliki tegangan nominal 51,2 V dan kapasitas 100 Ah.
51,2 V × 100 Ah ÷ 1.000 = 5,12 kWh
Angka 5,12 kWh merupakan energi nominal, bukan jaminan energi listrik AC yang akan diterima oleh peralatan. Untuk memperkirakan energi yang dapat digunakan, perlu mempertimbangkan DoD, efisiensi inverter, serta kondisi dan pengaturan sistem.
Contoh kapasitas beberapa baterai LiFePO4
| Tegangan nominal | Kapasitas | Perhitungan | Energi nominal |
|---|---|---|---|
| 12,8 V | 100 Ah | 12,8 × 100 ÷ 1.000 | 1,28 kWh |
| 25,6 V | 100 Ah | 25,6 × 100 ÷ 1.000 | 2,56 kWh |
| 48 V | 100 Ah | 48 × 100 ÷ 1.000 | 4,8 kWh |
| 48 V | 200 Ah | 48 × 200 ÷ 1.000 | 9,6 kWh |
| 51,2 V | 100 Ah | 51,2 × 100 ÷ 1.000 | 5,12 kWh |
| 51,2 V | 220 Ah | 51,2 × 220 ÷ 1.000 | 11,264 kWh |
| 51,2 V | 330 Ah | 51,2 × 330 ÷ 1.000 | 16,896 kWh |
Perhitungan di atas membantu membandingkan kapasitas nominal. Spesifikasi produk dan kondisi pengujiannya tetap perlu diperiksa sebelum baterai dipilih.
Contoh Perhitungan Baterai GINZA 51,2V 220Ah
Baterai GINZA LiFePO4 yang dibahas memiliki spesifikasi nominal:
- Tegangan: 51,2 VDC.
- Kapasitas: 220 Ah.
- Energi nominal: 11,264 kWh.
Perhitungannya:
51,2 V × 220 Ah ÷ 1.000 = 11,264 kWh
Artinya, secara nominal baterai tersebut memiliki kapasitas energi 11,264 kWh. Energi yang tersedia untuk beban akan lebih rendah setelah mempertimbangkan batas penggunaan baterai dan rugi-rugi sistem.
Pada lembar spesifikasi yang diberikan, GINZA mencantumkan DoD yang direkomendasikan sebesar 85% dan DoD maksimum sebesar 90%.
Sebagai perkiraan awal dengan DoD 85%:
11,264 kWh × 85% = 9,5744 kWh
Jadi, pada asumsi tersebut tersedia sekitar 9,57 kWh dari sisi baterai sebelum rugi-rugi inverter.
Contoh Perhitungan Baterai Vision 48V 200Ah
Baterai Vision V-LFP48200 memiliki spesifikasi nominal:
- Tegangan: 48 VDC.
- Kapasitas: 200 Ah.
- Energi nominal: 9,6 kWh.
Perhitungannya:
48 V × 200 Ah ÷ 1.000 = 9,6 kWh
Dokumen Vision mencantumkan angka 80% DoD sebagai kondisi pengujian siklus hidup. Angka ini dapat digunakan untuk ilustrasi perhitungan, tetapi tidak dinyatakan secara eksplisit dalam lampiran sebagai rekomendasi operasional untuk setiap aplikasi.
Dengan asumsi DoD 80%:
9,6 kWh × 80% = 7,68 kWh
Dengan demikian, perkiraan energi dari sisi baterai adalah 7,68 kWh sebelum rugi-rugi inverter. Untuk desain aktual, batas penggunaan Vision perlu dikonfirmasi sesuai manual dan pengaturan sistem.
Artikel terkait: Perbandingan Baterai LiFePO4 51,2V 220Ah dan 48V 200Ah: Mana yang Cocok untuk PLTS Hybrid? — artikel pilar perbandingan kedua produk.
Apa Itu Depth of Discharge atau DoD?
Depth of Discharge adalah persentase kapasitas baterai yang digunakan selama proses pengosongan.
Sebagai ilustrasi, jika baterai berkapasitas nominal 10 kWh digunakan pada DoD 80%, energi yang dihitung sebagai terpakai adalah:
10 kWh × 80% = 8 kWh
Dalam ilustrasi sederhana tersebut, sekitar 2 kWh dari kapasitas nominal tidak digunakan.
DoD membantu menentukan berapa bagian kapasitas nominal yang digunakan dalam perhitungan. Namun, kapasitas aktual dan batas kerja baterai tidak selalu dapat dijelaskan dengan satu angka saja. Pengaturan BMS, inverter, kondisi sel, suhu, serta spesifikasi produsen juga berpengaruh.
Contoh pengaruh DoD terhadap energi
| Energi nominal | DoD asumsi | Energi sebelum rugi-rugi |
|---|---|---|
| 10 kWh | 70% | 7 kWh |
| 10 kWh | 80% | 8 kWh |
| 10 kWh | 85% | 8,5 kWh |
| 10 kWh | 90% | 9 kWh |
DoD yang lebih besar dalam perhitungan menghasilkan energi tersedia yang lebih besar. Akan tetapi, batas pengaturan harus tetap mengikuti petunjuk produsen dan kebutuhan umur pakai sistem.
Cara Menghitung Energi AC yang Dapat Digunakan
Peralatan rumah dan usaha umumnya menggunakan listrik AC, sedangkan baterai menyimpan energi dalam bentuk DC. Inverter mengubah listrik DC menjadi AC, dan proses tersebut memiliki rugi-rugi.
Untuk perkiraan awal, gunakan rumus:
Energi AC perkiraan = energi nominal baterai × DoD × efisiensi inverter
Efisiensi inverter berbeda menurut model dan kondisi beban. Dalam contoh berikut, digunakan asumsi efisiensi inverter 90% untuk mempermudah perhitungan.
GINZA 51,2V 220Ah
11,264 kWh × 85% × 90% = 8,62 kWh AC
Vision 48V 200Ah
9,6 kWh × 80% × 90% = 6,91 kWh AC
| Baterai | Energi nominal | DoD untuk ilustrasi | Efisiensi inverter | Estimasi energi AC |
|---|---|---|---|---|
| GINZA 51,2V 220Ah | 11,264 kWh | 85% | 90% | ±8,62 kWh |
| Vision 48V 200Ah | 9,6 kWh | 80% | 90% | ±6,91 kWh |
Angka Vision menggunakan DoD 80% sebagai asumsi ilustrasi berdasarkan kondisi pengujian siklus pada lampiran. Angka aktual kedua baterai bergantung pada kondisi perangkat dan pengaturan sistem.
Selain rugi inverter, dalam praktik dapat terjadi konsumsi daya perangkat, rugi kabel, dan perubahan efisiensi akibat variasi beban. Oleh karena itu, hasil di atas sebaiknya dipakai sebagai estimasi awal, bukan jaminan kapasitas bersih.
Cara Menghitung Kebutuhan Energi Listrik Harian
Langkah pertama sebelum menentukan jumlah baterai adalah menghitung kebutuhan energi peralatan yang akan disuplai.
Rumus untuk satu peralatan:
Energi harian (Wh) = daya (W) × jumlah unit × lama penggunaan (jam)
Setelah itu, jumlahkan seluruh kebutuhan energi dan bagi 1.000 untuk mendapatkan kWh.
Contoh kebutuhan listrik rumah
| Peralatan | Jumlah | Daya per unit | Penggunaan | Energi |
|---|---|---|---|---|
| Lampu LED | 8 unit | 12 W | 6 jam | 576 Wh |
| Televisi | 1 unit | 100 W | 5 jam | 500 Wh |
| Router internet | 1 unit | 20 W | 10 jam | 200 Wh |
| Kipas angin | 2 unit | 45 W | 8 jam | 720 Wh |
| Kulkas | 1 unit | — | Estimasi harian | 1.000 Wh |
| Laptop | 2 unit | 60 W | 5 jam | 600 Wh |
| Total | 3.596 Wh atau 3,596 kWh |
Angka kulkas adalah contoh konsumsi harian, bukan nilai yang berlaku untuk semua kulkas. Konsumsi aktual dapat diketahui lebih baik melalui label energi atau pengukuran.
Pisahkan konsumsi harian dan kebutuhan baterai
Total konsumsi harian tidak selalu sama dengan energi yang harus disediakan baterai. Pada PLTS hybrid, sebagian beban mungkin disuplai langsung oleh panel surya pada siang hari atau oleh sumber listrik lain sesuai pengaturan sistem.
Sebagai contoh, apabila dari total 3,596 kWh per hari, energi yang perlu disediakan baterai pada malam hari dan saat cadangan adalah 2,5 kWh AC, maka perhitungan kapasitas baterai sebaiknya dimulai dari angka 2,5 kWh tersebut, bukan langsung dari seluruh konsumsi harian.
Perencanaan juga harus mempertimbangkan apakah panel surya dan sumber pengisian lain mampu mengisi ulang energi yang digunakan.
Cara Menentukan Kapasitas Baterai Berdasarkan Kebutuhan
Setelah kebutuhan energi AC yang harus disuplai baterai diketahui, gunakan rumus:
Kapasitas nominal baterai yang diperlukan = kebutuhan energi AC ÷ (DoD × efisiensi inverter)
Contoh kebutuhan 6 kWh AC
Misalkan sebuah rumah membutuhkan energi cadangan sebesar 6 kWh AC. Untuk perhitungan awal digunakan:
- DoD asumsi: 85%.
- Efisiensi inverter asumsi: 90%.
Maka:
6 kWh ÷ (0,85 × 0,90) = 7,84 kWh
Artinya, kapasitas nominal baterai yang dibutuhkan secara matematis sekitar 7,84 kWh, sebelum mempertimbangkan cadangan tambahan dan keterbatasan lain.
Jika menggunakan GINZA 51,2V 220Ah:
- Energi nominal satu unit: 11,264 kWh.
- Estimasi energi AC pada asumsi tersebut: ±8,62 kWh.
Secara perhitungan energi sederhana, satu unit dapat memenuhi kebutuhan 6 kWh AC. Namun, keputusan akhir tetap memerlukan pemeriksaan daya beban, arus baterai, kompatibilitas inverter, dan kemampuan pengisian ulang.
Contoh kebutuhan 15 kWh AC
Dengan asumsi yang sama:
15 kWh ÷ (0,85 × 0,90) = 19,61 kWh nominal
Dua unit GINZA memiliki total energi nominal:
2 × 11,264 kWh = 22,528 kWh
Estimasi energi AC:
22,528 × 85% × 90% = ±17,23 kWh AC
Secara perhitungan energi, dua unit dapat memenuhi kebutuhan 15 kWh pada asumsi tersebut. Pemasangan paralel tetap harus mengikuti panduan produsen dan hasil desain teknis.
Cara Menghitung Waktu Backup Baterai
Jika daya beban relatif tetap, estimasi waktu backup dapat dihitung dengan:
Waktu backup (jam) = energi AC perkiraan (kWh) ÷ daya beban (kW)
Sebagai contoh, jika tersedia energi AC perkiraan sebesar 8,62 kWh dan beban tetap sebesar 1 kW:
8,62 kWh ÷ 1 kW = ±8,62 jam
Simulasi GINZA 51,2V 220Ah
Asumsi: DoD 85% dan efisiensi inverter 90%.
| Beban tetap | Estimasi waktu backup |
|---|---|
| 500 W | ±17,2 jam |
| 1.000 W | ±8,6 jam |
| 1.500 W | ±5,7 jam |
| 2.000 W | ±4,3 jam |
Simulasi Vision 48V 200Ah
Asumsi: DoD 80% untuk ilustrasi dan efisiensi inverter 90%.
| Beban tetap | Estimasi waktu backup |
|---|---|
| 500 W | ±13,8 jam |
| 1.000 W | ±6,9 jam |
| 1.500 W | ±4,6 jam |
| 2.000 W | ±3,5 jam |
Simulasi mengasumsikan baterai tersedia dalam keadaan terisi sesuai rentang yang dihitung dan tidak ada tambahan pengisian selama periode backup. Beban nyata sering berubah-ubah sehingga hasil aktual dapat lebih pendek atau lebih panjang.
Artikel terkait: Berapa Lama Baterai LiFePO4 200Ah dan 220Ah Bisa Menjadi Cadangan Listrik? — artikel pendukung 3.
Perbedaan Kapasitas Energi dan Kemampuan Daya
Dalam perencanaan PLTS, energi dan daya sama-sama penting.
- Energi (kWh) berkaitan dengan jumlah listrik yang dapat digunakan selama periode tertentu.
- Daya (kW) berkaitan dengan besarnya kebutuhan listrik pada suatu saat.
Baterai dapat memiliki energi yang cukup untuk menyuplai peralatan selama beberapa jam, tetapi tetap harus memiliki kemampuan arus yang sesuai saat beban beroperasi.
Sebagai ilustrasi, dua skenario berikut sama-sama menggunakan energi 4 kWh:
- Beban 1 kW selama 4 jam.
- Beban 4 kW selama 1 jam.
Meskipun energinya sama, skenario kedua membutuhkan daya dan arus yang lebih besar. Karena itu, periksa juga:
- Daya nominal dan kemampuan beban awal inverter.
- Batas arus pengosongan baterai.
- Rentang tegangan operasi.
- Pengaman dan ukuran kabel.
- Ketentuan BMS serta produsen.
Lembar GINZA mencantumkan arus pengosongan rekomendasi 200 A. Sementara dokumen Vision mencantumkan arus pengosongan standar 50 A dan maksimum 100 A pada 25°C. Nilai-nilai tersebut memiliki definisi berbeda, sehingga perlu dibaca bersama dokumen lengkap dan kondisi pengoperasiannya.
Mengapa Tegangan Inverter Harus Sesuai?
Tegangan nominal baterai merupakan salah satu informasi awal dalam pemilihan inverter, tetapi kesesuaian sistem tidak dapat ditentukan hanya dari label “48 V”.
Berdasarkan dokumen yang diberikan:
| Parameter | GINZA 51,2V 220Ah | Vision V-LFP48200 |
|---|---|---|
| Tegangan nominal | 51,2 V | 48 V |
| Rentang tegangan operasi | 44,8–57,6 V | 42–54 V |
Sebelum pemasangan, pastikan inverter mendukung rentang dan pengaturan yang diperlukan oleh baterai, termasuk tegangan pengisian, batas pengosongan, serta komunikasi BMS.
Jika baterai dan inverter menggunakan komunikasi data, periksa pula protokol dan dukungan firmware. Memiliki jenis port yang sama belum tentu berarti kedua perangkat dapat berkomunikasi dengan benar.
Artikel terkait: Perbedaan Baterai 48V dan 51,2V untuk PLTS: Apakah Bisa Menggunakan Inverter yang Sama? — artikel pendukung 2.
Peran BMS dalam Penggunaan Baterai LiFePO4
Battery Management System atau BMS membantu memantau dan melindungi baterai selama pengoperasian. Tergantung desain produk, BMS dapat memantau tegangan, arus, suhu, dan status baterai.
Fungsi yang umum ditemukan antara lain:
- Membantu melindungi baterai dari pengisian berlebih.
- Membantu melindungi baterai dari pengosongan berlebih.
- Membatasi atau menghentikan operasi ketika terjadi arus berlebih.
- Memantau suhu baterai.
- Membantu penyeimbangan sel.
- Menyediakan informasi dan komunikasi untuk pemantauan.
BMS merupakan bagian penting dari sistem, tetapi tidak menggantikan kebutuhan desain instalasi yang benar. Pemilihan kabel, pemutus, proteksi, dan pengaturan inverter tetap perlu dilakukan sesuai spesifikasi.
Artikel terkait: Apa Itu BMS pada Baterai LiFePO4? Fungsi Proteksi dan Komunikasi dengan Inverter — artikel pendukung 4.
Cara Menghitung Jumlah Baterai yang Dibutuhkan
Apabila kebutuhan energi lebih besar daripada kapasitas satu unit, jumlah baterai dapat dihitung sebagai langkah awal dengan rumus:
Jumlah unit = kebutuhan energi AC ÷ estimasi energi AC per unit
Hasil perhitungan kemudian dibulatkan ke atas menjadi jumlah unit utuh, selama susunan tersebut diizinkan oleh produsen dan sesuai dengan desain sistem.
Contoh kebutuhan 20 kWh AC
Dengan contoh GINZA 51,2V 220Ah:
- Estimasi energi AC per unit: 8,62 kWh.
- Kebutuhan energi AC: 20 kWh.
20 ÷ 8,62 = 2,32 unit
Dibulatkan ke atas menjadi 3 unit.
Total energi nominal:
3 × 11,264 kWh = 33,792 kWh
Estimasi energi AC pada asumsi DoD 85% dan efisiensi inverter 90%:
33,792 × 85% × 90% = ±25,85 kWh
Perhitungan ini hanya menentukan jumlah unit dari sisi energi. Sistem tiga unit masih perlu diperiksa untuk kemampuan arus, komunikasi, kabel, pengaman, tata letak, dan kemampuan pengisian ulang.
Lampiran GINZA menyebutkan pengembangan hingga 20 unit paralel. Namun, prosedur dan persyaratan paralel tetap harus mengikuti manual yang berlaku.
Apakah Kapasitas Panel Surya Harus Sesuai dengan Kapasitas Baterai?
Ya. Baterai yang besar tetap memerlukan sumber pengisian yang cukup agar energi yang digunakan dapat diisi kembali sesuai kebutuhan.
Jika energi yang dikeluarkan baterai setiap malam lebih besar daripada energi yang dapat diisikan kembali pada siang hari, tingkat pengisian baterai dapat menurun dari hari ke hari, kecuali tersedia sumber pengisian lain.
Sebagai ilustrasi sederhana:
- Energi AC yang disuplai baterai pada malam hari: 6 kWh.
- Sistem perlu menyediakan energi tambahan untuk menutup rugi-rugi konversi dan pengisian.
- Energi dari panel juga dapat digunakan langsung oleh beban siang hari.
Karena itu, kebutuhan ukuran panel tidak dapat ditentukan hanya dengan mengatakan bahwa baterainya 10 kWh atau 11,264 kWh. Desainer perlu mempertimbangkan:
- Konsumsi energi siang dan malam.
- Lokasi dan potensi penyinaran.
- Orientasi, kemiringan, dan bayangan panel.
- Efisiensi komponen.
- Daya dan batas pengisian inverter.
- Ketersediaan jaringan listrik atau sumber lainnya.
- Target waktu pengisian ulang.
Ukuran PLTS yang tepat diperoleh dari perhitungan energi dan kondisi lokasi, kemudian diverifikasi bersama spesifikasi setiap komponen.
Kesalahan Umum Saat Menghitung Kapasitas Baterai
1. Hanya melihat angka Ah
Baterai 100 Ah pada 12,8 V dan 100 Ah pada 51,2 V memiliki energi nominal yang berbeda. Bandingkan keduanya dalam satuan Wh atau kWh.
2. Menganggap seluruh energi nominal tersedia untuk beban
Energi nominal perlu disesuaikan dengan DoD, efisiensi inverter, serta kondisi sistem.
3. Tidak memisahkan beban siang dan malam
Pada PLTS hybrid, sebagian energi mungkin digunakan langsung dari panel atau sumber lain. Kebutuhan baterai harus dihitung sesuai waktu dan tujuan penggunaannya.
4. Mengabaikan daya beban yang menyala bersamaan
Kebutuhan energi harian dapat terpenuhi, tetapi inverter atau baterai mungkin tidak mampu menyuplai daya sesaat yang dibutuhkan.
5. Tidak memeriksa kompatibilitas inverter dan BMS
Rentang tegangan, batas arus, protokol komunikasi, dan firmware perlu diperiksa sebelum pemasangan.
6. Tidak mempertimbangkan pengisian ulang
Baterai yang cukup besar harus didukung oleh sumber pengisian yang sesuai agar siap digunakan pada siklus berikutnya.
7. Menggabungkan baterai tanpa mengikuti ketentuan produsen
Jenis, tegangan, model, kondisi baterai, komunikasi, dan tata cara paralel harus sesuai dengan panduan produk dan desain teknis.
Artikel terkait: Cara Memilih Baterai LiFePO4 untuk PLTS Hybrid dan Off-Grid — artikel pendukung 5.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Bagaimana cara menghitung kWh baterai LiFePO4?
Kalikan tegangan nominal dengan kapasitas Ah, lalu bagi 1.000.
Contoh:
51,2 V × 220 Ah ÷ 1.000 = 11,264 kWh nominal.
Berapa kWh baterai 48V 200Ah?
48 V × 200 Ah ÷ 1.000 = 9,6 kWh nominal.
Berapa kWh baterai 51,2V 220Ah?
51,2 V × 220 Ah ÷ 1.000 = 11,264 kWh nominal.
Apakah baterai 11,264 kWh menghasilkan listrik AC 11,264 kWh?
Belum tentu. Energi AC yang tersedia akan dipengaruhi batas penggunaan baterai, efisiensi inverter, dan kondisi sistem lainnya.
Apakah semakin besar Ah selalu semakin baik?
Tidak selalu. Kapasitas harus sesuai dengan kebutuhan energi, inverter, kemampuan pengisian, ruang pemasangan, dan anggaran. Saat membandingkan baterai dengan tegangan berbeda, gunakan kWh sebagai salah satu acuan.
Apakah baterai 48V dan 51,2V bisa memakai inverter yang sama?
Bisa saja jika spesifikasi dan pengaturan perangkat sesuai, tetapi hal tersebut harus diverifikasi pada model yang digunakan. Periksa rentang tegangan, arus, dan komunikasi BMS sebelum pemasangan.
Berapa baterai yang dibutuhkan untuk PLTS hybrid?
Jumlahnya bergantung pada energi yang harus disuplai baterai, lama backup, DoD, efisiensi inverter, daya beban, dan kapasitas tiap unit. Perhitungan awal perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan desain teknis.
Kesimpulan
Menghitung kapasitas baterai LiFePO4 untuk PLTS hybrid dimulai dengan mengubah tegangan dan Ah menjadi energi nominal dalam kWh:
kWh = V × Ah ÷ 1.000
Baterai GINZA 51,2V 220Ah memiliki energi nominal 11,264 kWh, sedangkan Vision 48V 200Ah memiliki energi nominal 9,6 kWh. Untuk memperkirakan energi yang dapat digunakan oleh peralatan AC, perhitungan perlu mempertimbangkan DoD dan efisiensi inverter.
Pemilihan akhir juga harus memperhatikan daya beban, arus baterai, kompatibilitas inverter, komunikasi BMS, lokasi pemasangan, dan kemampuan sistem untuk mengisi ulang baterai.
Ingin mengetahui kapasitas baterai yang sesuai untuk rumah, usaha, atau proyek Anda? Konsultasikan kebutuhan PLTS hybrid dan baterai LiFePO4 bersama DBSN Group melalui www.pjusolarcellindonesia.com.
Siapkan daftar peralatan, perkiraan lama penggunaan, target waktu backup, dan tipe inverter agar kebutuhan kapasitas dapat dihitung lebih tepat.
Catatan interlink: Judul artikel terkait di atas merupakan penempatan internal link yang direncanakan. Tambahkan URL halaman yang sesuai setelah setiap artikel diterbitkan.