Perbandingan Baterai LiFePO4 51,2V 220Ah dan 48V 200Ah: Mana yang Cocok untuk PLTS Hybrid?
Memilih baterai untuk PLTS hybrid membutuhkan pertimbangan lebih dari sekadar melihat kapasitas ampere-hour atau Ah. Tegangan nominal, kapasitas energi dalam kWh, kemampuan arus, fitur Battery Management System, serta kecocokan dengan inverter akan memengaruhi kinerja sistem secara keseluruhan.
Dua pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah baterai GINZA LiFePO4 51,2V 220Ah dan Vision V-LFP48200 48V 200Ah. Keduanya menggunakan teknologi lithium iron phosphate atau LiFePO4, tetapi memiliki perbedaan pada kapasitas energi, rentang tegangan, komunikasi, tingkat perlindungan, dan bentuk pemasangan.
Secara nominal, GINZA 51,2V 220Ah memiliki kapasitas energi 11,264 kWh, sedangkan Vision 48V 200Ah memiliki kapasitas 9,6 kWh. Namun, kapasitas yang lebih besar tidak otomatis membuat satu baterai menjadi pilihan terbaik untuk semua proyek. Kesesuaian dengan inverter dan kebutuhan beban tetap harus diperiksa.
Artikel ini membahas perbandingan kedua baterai berdasarkan lembar spesifikasi yang diberikan, dilengkapi contoh perhitungan dan panduan pemilihan untuk PLTS hybrid maupun aplikasi penyimpanan energi lainnya.
Mengenal Baterai LiFePO4 untuk PLTS Hybrid
Baterai LiFePO4 merupakan baterai lithium yang menggunakan lithium iron phosphate sebagai material katodanya. Dalam sistem PLTS, baterai berfungsi menyimpan energi listrik agar dapat digunakan ketika produksi panel surya tidak mencukupi, misalnya pada malam hari atau saat listrik jaringan padam.
Pada PLTS hybrid, baterai bekerja bersama beberapa komponen utama:
- Panel surya, untuk menghasilkan listrik dari sinar matahari.
- Inverter hybrid, untuk mengatur aliran energi dan menyediakan listrik AC bagi beban.
- Baterai, untuk menyimpan energi listrik.
- Battery Management System atau BMS, untuk memantau dan membantu melindungi baterai.
- Jaringan listrik atau sumber lain, jika sistem dirancang terhubung dengan sumber tersebut.
Energi dari panel surya dapat digunakan langsung oleh beban dan, sesuai pengaturan sistem, digunakan pula untuk mengisi baterai. Ketika daya dari panel tidak tersedia atau tidak mencukupi, inverter dapat mengambil energi dari baterai selama kondisi dan pengaturannya memungkinkan.
Karena baterai berhubungan langsung dengan inverter dan pola penggunaan listrik, pemilihannya harus memperhatikan kapasitas energi dan kemampuan daya secara bersamaan.
Mengenal GINZA 51,2V 220Ah dan Vision V-LFP48200
GINZA LiFePO4 51,2V 220Ah
Berdasarkan lembar spesifikasi yang diberikan, baterai GINZA memiliki tegangan nominal 51,2 VDC dan kapasitas 220 Ah. Energi nominalnya tercantum sebesar 11,264 kWh.
Beberapa fitur yang tercantum meliputi layar sentuh 4,3 inci, komunikasi CAN/RS485/RS232, fungsi penyeimbangan aktif 3 A, perlindungan IP65, dan kemampuan pengembangan hingga 20 unit secara paralel sesuai ketentuan produk.
Lampiran juga menyebutkan penggunaan untuk sistem off-grid dan hybrid. Untuk penerapan nyata, kecocokan tetap perlu diperiksa dengan model inverter, firmware, dan pengaturan sistem yang digunakan.
Vision V-LFP48200 48V 200Ah
Vision V-LFP48200 adalah baterai LiFePO4 dengan tegangan nominal 48 VDC, kapasitas 200 Ah, dan energi nominal 9,6 kWh pada kondisi pengujian yang dicantumkan.
Dokumen Vision menjelaskan bahwa baterai ini sesuai untuk pemasangan pada kabinet 19 inci. Aplikasi yang disebutkan antara lain sistem energi terbarukan, telekomunikasi, dan ruang mesin pusat data.
Fitur yang tercantum meliputi BMS internal, komunikasi RS485, dua dry contacts, LCD, indikator status, serta proteksi terhadap beberapa kondisi pengoperasian yang tidak normal.
Tabel Perbandingan Spesifikasi
| Parameter | GINZA 51,2V 220Ah | Vision V-LFP48200 |
|---|---|---|
| Teknologi baterai | LiFePO4 | LiFePO4 |
| Tegangan nominal | 51,2 VDC | 48 VDC |
| Kapasitas nominal | 220 Ah | 200 Ah |
| Energi nominal | 11,264 kWh | 9,6 kWh |
| Rentang tegangan operasi | 44,8–57,6 V | 42–54 V |
| Arus pengisian | Rekomendasi 100 A | Standar 50 A; maksimum 100 A pada 25°C |
| Arus pengosongan | Rekomendasi 200 A | Standar 50 A; maksimum 100 A pada 25°C |
| Depth of Discharge atau DoD | Rekomendasi 85%; maksimum 90% | 80% DoD pada kondisi pengujian siklus |
| Siklus hidup | ?10.000 siklus; kondisi catatan kaki perlu dikonfirmasi | 5.500 siklus pada 0,2C, 25°C dan 80% DoD |
| Komunikasi | CAN, RS485, RS232 | RS485 dan dua dry contacts |
| Tampilan | Layar sentuh 4,3 inci | LCD serta indikator alarm, run dan SOC |
| Tingkat perlindungan | IP65 | IP20 |
| Pengembangan paralel | Hingga 20 unit | Hingga 16 unit |
| Dimensi, lebar × kedalaman × tinggi | 540 × 280 × 700 mm | 440 × 510 × 222 mm |
| Berat | Tidak tercantum pada lampiran | Sekitar 75 kg |
| Suhu pengisian | 0°C hingga 55°C | 0°C hingga 55°C |
| Suhu pengosongan | ?20°C hingga 55°C | ?20°C hingga 55°C |
Catatan: Perbandingan ini mengacu pada dokumen yang diberikan. Nilai arus, siklus, dan kapasitas perlu dibaca bersama kondisi pengujiannya. Sebelum pembelian atau pemasangan, pastikan kembali spesifikasi dan dokumen terbaru dari pemasok.
Perbedaan Kapasitas Energi: 11,264 kWh dan 9,6 kWh
Salah satu perbedaan yang paling mudah dilihat adalah kapasitas energi nominal kedua baterai. Kapasitas ini dinyatakan dalam kilowatt-hour atau kWh, yaitu satuan energi yang menunjukkan jumlah listrik yang dapat disimpan secara nominal.
Rumus dasarnya adalah:
Energi nominal baterai (kWh) = tegangan nominal (V) × kapasitas (Ah) ÷ 1.000
Perhitungan GINZA 51,2V 220Ah
51,2 V × 220 Ah ÷ 1.000 = 11,264 kWh
Perhitungan Vision 48V 200Ah
48 V × 200 Ah ÷ 1.000 = 9,6 kWh
Selisihnya adalah:
11,264 kWh ? 9,6 kWh = 1,664 kWh
Dengan dasar kapasitas nominal tersebut, GINZA memiliki energi sekitar 17,3% lebih besar daripada Vision.
Sebagai gambaran sederhana, selisih energi nominal 1,664 kWh secara matematis setara dengan beban 1.000 watt selama 1,664 jam. Namun, nilai tersebut belum memperhitungkan batas penggunaan baterai, efisiensi inverter, kondisi baterai, dan faktor operasional lain. Karena itu, selisih kapasitas nominal tidak boleh langsung dianggap sebagai selisih waktu backup aktual.
Perlu juga dipahami bahwa Ah saja tidak cukup untuk membandingkan baterai dengan tegangan berbeda. Dua baterai dengan kapasitas Ah yang sama dapat memiliki energi nominal berbeda jika tegangan nominalnya tidak sama.
Baca juga: Cara Menghitung Kapasitas Baterai LiFePO4 untuk PLTS Hybrid dalam kWh — artikel pendukung 1.
Apa Itu Depth of Discharge atau DoD?
Depth of Discharge (DoD) adalah persentase kapasitas baterai yang digunakan dalam suatu siklus pengosongan. Sebagai contoh, DoD 80% berarti sekitar 80% kapasitas digunakan pada siklus tersebut, sementara sekitar 20% disisakan berdasarkan acuan perhitungan yang digunakan.
Pada lembar spesifikasi GINZA tercantum:
- DoD yang direkomendasikan: 85%.
- DoD maksimum: 90%.
Pada dokumen Vision, 80% DoD tercantum sebagai bagian dari kondisi pengujian untuk angka 5.500 siklus. Dokumen tersebut tidak secara eksplisit menyatakannya sebagai rekomendasi operasional untuk seluruh aplikasi.
Batas penggunaan pada sistem nyata dapat dipengaruhi pengaturan inverter, BMS, kondisi baterai, dan ketentuan produsen. Oleh karena itu, nilai DoD perlu diperiksa ketika sistem dirancang.
Simulasi energi berdasarkan DoD
| Perhitungan | GINZA 51,2V 220Ah | Vision 48V 200Ah |
|---|---|---|
| Energi nominal | 11,264 kWh | 9,6 kWh |
| DoD yang digunakan untuk contoh | 85% | 80% |
| Energi sebelum rugi-rugi | 9,57 kWh | 7,68 kWh |
Perhitungannya:
- GINZA: 11,264 kWh × 85% = 9,5744 kWh.
- Vision: 9,6 kWh × 80% = 7,68 kWh.
Untuk Vision, 80% digunakan sebagai asumsi ilustrasi yang merujuk pada kondisi pengujian siklus di dokumen. Nilai operasional yang diizinkan untuk proyek perlu dikonfirmasi dengan produsen atau pemasok.
Berapa Lama Baterai Dapat Menyediakan Backup?
Lama backup dipengaruhi oleh energi yang tersedia dan daya beban. Semakin besar beban yang digunakan secara bersamaan, semakin cepat energi baterai terpakai.
Rumus sederhana untuk perkiraan awal:
Waktu backup = energi nominal × DoD × efisiensi inverter ÷ daya beban
Untuk simulasi berikut digunakan asumsi:
- Baterai awalnya terisi sesuai rentang penggunaan yang dihitung.
- Beban tetap selama periode backup.
- DoD GINZA 85%.
- DoD Vision 80% sebagai asumsi ilustrasi.
- Efisiensi inverter diasumsikan 90%.
- Tidak ada tambahan energi dari panel surya selama backup.
| Beban tetap | Estimasi GINZA 51,2V 220Ah | Estimasi Vision 48V 200Ah |
|---|---|---|
| 500 W | ±17,2 jam | ±13,8 jam |
| 1.000 W | ±8,6 jam | ±6,9 jam |
| 2.000 W | ±4,3 jam | ±3,5 jam |
Contoh perhitungan untuk beban 1.000 W
GINZA:
11,264 kWh × 85% × 90% ÷ 1 kW = ±8,6 jam
Vision:
9,6 kWh × 80% × 90% ÷ 1 kW = ±6,9 jam
Angka di atas adalah estimasi awal, bukan jaminan durasi operasional. Waktu nyata dapat berubah karena beban tidak selalu tetap, efisiensi inverter berubah mengikuti kondisi operasi, dan baterai memiliki batas tegangan serta arus yang harus dipatuhi.
Peralatan seperti pompa, kulkas, dan AC juga dapat memiliki arus awal yang lebih tinggi daripada arus saat bekerja normal. Kapasitas inverter dan kemampuan baterai perlu diperiksa untuk menghadapi kondisi tersebut.
Baca juga: Berapa Lama Baterai LiFePO4 200Ah dan 220Ah Bisa Menjadi Cadangan Listrik? — artikel pendukung 3.
Perbedaan Tegangan 48V dan 51,2V
Baterai 48V dan 51,2V sering dibahas dalam kelompok sistem baterai kelas 48 V. Namun, kedua angka tersebut tetap memiliki rentang tegangan operasi yang berbeda.
Berdasarkan dokumen produk:
- GINZA 51,2V 220Ah: rentang operasi 44,8–57,6 V.
- Vision 48V 200Ah: rentang operasi 42–54 V.
Tegangan nominal merupakan nilai acuan, sedangkan tegangan aktual berubah selama pengisian dan pengosongan. Inverter dan pengisi daya harus dapat beroperasi sesuai rentang serta pengaturan baterai yang dipilih.
Sebelum menghubungkan baterai dengan inverter, periksa:
- Rentang tegangan baterai yang diterima inverter.
- Tegangan pengisian yang ditetapkan oleh produsen baterai.
- Pengaturan penghentian pengosongan atau low-voltage cut-off.
- Batas arus pengisian dan pengosongan.
- Kesesuaian protokol komunikasi baterai dan inverter.
- Dukungan model baterai dan versi firmware inverter.
Label “inverter 48 V” saja belum cukup untuk memastikan kompatibilitas. Dua perangkat dapat memiliki nama kelas tegangan yang serupa, tetapi membutuhkan pengaturan dan protokol komunikasi yang berbeda.
Lembar GINZA mencantumkan sejumlah merek inverter sebagai kompatibel. Walaupun demikian, kompatibilitas untuk model dan firmware tertentu tetap perlu dikonfirmasi terlebih dahulu.
Baca juga: Perbedaan Baterai 48V dan 51,2V untuk PLTS: Apakah Bisa Menggunakan Inverter yang Sama? — artikel pendukung 2.
Arus Pengisian dan Pengosongan: Mengapa Penting?
Kapasitas energi menjelaskan berapa banyak energi yang tersedia secara nominal. Sementara itu, arus pengisian dan pengosongan membantu menentukan seberapa cepat energi dapat masuk atau keluar dari baterai dalam kondisi yang diizinkan.
Berdasarkan lampiran:
| Parameter | GINZA | Vision |
|---|---|---|
| Arus pengisian | Rekomendasi 100 A | Standar 50 A; maksimum 100 A pada 25°C |
| Arus pengosongan | Rekomendasi 200 A | Standar 50 A; maksimum 100 A pada 25°C |
Nilai tersebut menggunakan istilah yang berbeda: rekomendasi, standar, dan maksimum. Karena itu, perbandingannya perlu dilakukan secara hati-hati dan bersama data teknis lengkap.
Sebagai pendekatan awal, daya DC dapat dihitung dengan rumus:
Daya DC (W) = tegangan (V) × arus (A)
Misalnya, pada tegangan nominal Vision 48 V dan arus 100 A:
48 V × 100 A = 4.800 W atau 4,8 kW DC
Angka ini hanya hasil perkalian nominal, bukan jaminan daya AC inverter yang dapat digunakan terus-menerus. Tegangan baterai berubah, terdapat rugi-rugi, dan batas operasi aktual ditentukan oleh BMS, suhu, kabel, inverter, serta ketentuan produsen.
Untuk beban besar, teknisi perlu memastikan bahwa baterai tidak hanya memiliki energi yang cukup dalam kWh, tetapi juga mampu menyediakan arus yang dibutuhkan dengan aman pada kondisi operasi yang direncanakan.
Perbandingan BMS dan Fitur Proteksi
Battery Management System atau BMS adalah sistem elektronik yang memantau dan mengelola kondisi baterai. Fungsinya membantu menjaga baterai beroperasi dalam batas yang ditetapkan produsen.
Secara umum, BMS dapat memantau kondisi seperti tegangan, arus, suhu, dan tingkat pengisian baterai. Bila terjadi kondisi di luar batas, sistem proteksi dapat membatasi atau menghentikan operasi sesuai desainnya.
Fitur pada GINZA
Lampiran GINZA mencantumkan:
- Penyeimbangan aktif 3 A.
- Automatic dialing.
- Alarm untuk pengisian berlebih, pengosongan berlebih, arus berlebih, suhu berlebih, dan hubungan singkat.
- Layar sentuh 4,3 inci.
Penjelasan mengenai fungsi dan cara konfigurasi fitur automatic dialing perlu mengikuti manual produk yang sesuai.
Fitur pada Vision
Dokumen Vision mencantumkan:
- BMS internal dengan pembatasan arus pengisian.
- Proteksi terhadap tegangan berlebih dan rendah.
- Proteksi arus berlebih dan hubungan singkat.
- Proteksi suhu tinggi dan rendah.
- Penyeimbangan sel internal.
- Indikasi status pengisian atau SOC dan kondisi kesehatan baterai atau SOH.
- LCD serta indikator alarm, run, dan SOC.
- Fitur antitheft berbasis giroskop.
Fitur BMS memberikan perlindungan dan informasi operasional. Meski demikian, sistem tetap harus dirancang dengan pengaman, kabel, pemutus, dan prosedur instalasi yang sesuai.
Baca juga: Apa Itu BMS pada Baterai LiFePO4? Fungsi Proteksi dan Komunikasi dengan Inverter — artikel pendukung 4.
Perbandingan Komunikasi dengan Inverter
Komunikasi antara baterai dan inverter membantu perangkat bertukar informasi. Bergantung pada dukungan protokolnya, informasi tersebut dapat mencakup status baterai, alarm, dan batas operasional yang dikirim oleh BMS.
Komunikasi GINZA
Lembar spesifikasi GINZA mencantumkan:
- CAN
- RS485
- RS232
Komunikasi Vision
Dokumen Vision mencantumkan:
- RS485
- Dua dry contacts
Ketersediaan port komunikasi tidak otomatis menjamin dua perangkat dapat saling berkomunikasi. Jenis port dan protokol adalah hal yang berbeda: dua perangkat dapat sama-sama memiliki port RS485, tetapi menggunakan protokol atau konfigurasi yang tidak sesuai.
Saat merencanakan sistem, mintalah konfirmasi kepada pemasok mengenai:
- Model inverter yang akan dipakai.
- Model dan versi baterai.
- Protokol komunikasi yang didukung.
- Kebutuhan kabel dan konfigurasi pin.
- Pengaturan perangkat dan versi firmware.
Jika sistem direncanakan tanpa komunikasi langsung BMS dan inverter, pengaturan tegangan dan arus harus mengikuti petunjuk produsen serta persyaratan teknis sistem.
IP65 dan IP20: Apa Artinya untuk Lokasi Pemasangan?
Tingkat perlindungan IP memberikan informasi mengenai perlindungan enclosure terhadap masuknya benda padat dan air.
GINZA: IP65
GINZA mencantumkan tingkat perlindungan IP65. Secara umum, klasifikasi ini menunjukkan perlindungan terhadap masuknya debu dan semprotan air sesuai kondisi pengujian IP.
Namun, angka IP65 tidak berarti baterai dapat dipasang di semua lokasi luar ruangan tanpa pertimbangan. Posisi pemasangan, paparan matahari langsung, panas, ventilasi, konektor, dan ketentuan pabrikan tetap harus diperiksa.
Vision: IP20
Vision mencantumkan IP20. Tingkat ini menunjukkan perlindungan terhadap benda padat tertentu, tetapi tidak menyatakan perlindungan terhadap air.
Dokumen Vision juga menyebutkan kesesuaian untuk pemasangan di kabinet 19 inci. Lokasi pemasangan perlu terlindung dari air dan disesuaikan dengan petunjuk produsen, kebutuhan ventilasi, serta pengelolaan suhu.
Perbedaan tingkat IP dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan ruang pemasangan, tetapi desain lokasi tidak boleh hanya mengandalkan angka IP.
Perbandingan Siklus Hidup Baterai
Siklus hidup adalah salah satu parameter untuk memperkirakan ketahanan baterai dalam penggunaan berulang. Namun, angka siklus harus dibaca bersama kondisi pengujian dan kriteria akhir masa pakai yang digunakan oleh produsen.
Pada dokumen yang tersedia:
- GINZA: tercantum ?10.000 siklus. Ada penanda catatan kaki, tetapi penjelasan kondisi pengujiannya tidak terlihat pada lampiran yang diberikan.
- Vision: tercantum 5.500 siklus pada 0,2C, suhu 25°C, dan 80% DoD.
Karena kondisi pengujian GINZA belum lengkap, kedua angka tersebut belum dapat dibandingkan secara langsung untuk menyimpulkan baterai mana yang akan bertahan lebih lama di lapangan.
Sebelum menjadikan siklus hidup sebagai dasar keputusan, mintalah data tambahan mengenai:
- DoD saat pengujian.
- Suhu dan laju pengisian/pengosongan.
- Kapasitas yang masih tersisa pada akhir pengujian.
- Syarat garansi dan ketentuan penggunaan.
- Umur kalender yang diperkirakan produsen.
Pola penggunaan, suhu, waktu penyimpanan, dan pengaturan sistem juga dapat memengaruhi kondisi baterai selama pemakaian.
Pengembangan Kapasitas dengan Paralel
Dalam beberapa proyek, satu baterai mungkin belum cukup untuk memenuhi kebutuhan energi. Pengembangan dapat dilakukan dengan menambahkan baterai secara paralel apabila desain dan ketentuan produsen mengizinkannya.
Berdasarkan lampiran:
- GINZA: hingga 20 unit paralel.
- Vision: hingga 16 unit paralel.
Sebagai ilustrasi penjumlahan energi nominal:
| Jumlah unit | GINZA 51,2V 220Ah | Vision 48V 200Ah |
|---|---|---|
| 1 unit | 11,264 kWh | 9,6 kWh |
| 2 unit | 22,528 kWh | 19,2 kWh |
| 4 unit | 45,056 kWh | 38,4 kWh |
Tabel tersebut menunjukkan penjumlahan kapasitas nominal, bukan kapasitas bersih yang pasti tersedia. Hasil akhir bergantung pada DoD, efisiensi, pengaturan, kondisi unit, dan rancangan sistem.
Pemasangan paralel harus mengikuti petunjuk produsen mengenai model yang diizinkan, kesesuaian kondisi dan tingkat pengisian baterai, pengaturan komunikasi, pengaman, busbar, serta ukuran dan panjang kabel.
Jangan langsung memparalelkan baterai GINZA dan Vision satu sama lain. Keduanya memiliki tegangan nominal, rentang operasi, dan karakteristik BMS yang berbeda. Kombinasi tersebut hanya dapat dipertimbangkan jika ada persetujuan dan rancangan khusus dari pihak yang berwenang serta produsen terkait.
Mana yang Cocok untuk PLTS Hybrid?
Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan proyek dan kesesuaian seluruh komponen.
Pertimbangkan GINZA 51,2V 220Ah jika:
- Kebutuhan energi nominal mendekati 11,264 kWh per unit.
- Sistem membutuhkan antarmuka komunikasi yang tersedia pada produk, setelah kompatibilitas protokol diverifikasi.
- Pengguna membutuhkan layar sentuh dan fitur yang tercantum dalam spesifikasi.
- Kondisi pemasangan dan desain sistem sesuai dengan petunjuk produk.
Pertimbangkan Vision V-LFP48200 jika:
- Kebutuhan energi nominal sekitar 9,6 kWh per unit sesuai untuk proyek.
- Sistem dirancang menggunakan kabinet 19 inci dan lingkungan pemasangan yang terlindung.
- Kebutuhan komunikasi RS485 atau dry contact sesuai dengan sistem.
- Batas arus dan rentang tegangan Vision sesuai dengan inverter dan beban.
Untuk kedua pilihan, periksa pula ketersediaan, garansi, dukungan teknis, biaya instalasi, dan persyaratan pemeliharaan sebelum membuat keputusan pembelian.
Baca juga: Cara Memilih Baterai LiFePO4 untuk PLTS Hybrid dan Off-Grid — artikel pendukung 5.
Contoh Langkah Memilih Baterai untuk Rumah atau Usaha
Agar perbandingan lebih mudah diterapkan, berikut langkah awal yang dapat dilakukan.
1. Catat beban yang ingin disuplai baterai
Buat daftar perangkat, daya dalam watt, jumlah unit, dan lama penggunaannya. Pisahkan beban penting yang harus tetap menyala ketika listrik padam.
Contohnya, lampu, perangkat internet, komputer, kulkas, atau peralatan operasional tertentu. Jangan lupa mempertimbangkan peralatan bermotor yang memiliki kebutuhan daya awal lebih tinggi.
2. Hitung kebutuhan energi
Kalikan daya setiap peralatan dengan lama penggunaan:
Energi (Wh) = daya (W) × waktu penggunaan (jam)
Sebagai contoh:
- Lampu 100 W digunakan 5 jam = 500 Wh.
- Komputer 200 W digunakan 4 jam = 800 Wh.
- Perangkat internet 20 W digunakan 10 jam = 200 Wh.
Total energi contoh:
500 + 800 + 200 = 1.500 Wh atau 1,5 kWh
Perhitungan tersebut belum memasukkan rugi inverter, cadangan tambahan, dan kemungkinan perubahan beban.
3. Tentukan lama backup yang diharapkan
Jika tujuan utama adalah cadangan listrik, tentukan berapa jam beban penting perlu tetap beroperasi. Kebutuhan backup dua jam tentu berbeda dengan kebutuhan sepanjang malam.
4. Periksa kebutuhan daya secara bersamaan
Jumlahkan daya perangkat yang mungkin menyala pada waktu yang sama. Hasilnya membantu menentukan kapasitas inverter dan kebutuhan arus dari baterai.
5. Cocokkan spesifikasi sistem
Setelah kebutuhan energi dan daya diketahui, periksa:
- Kapasitas baterai dalam kWh.
- Rentang tegangan dan pengaturan inverter.
- Arus pengisian dan pengosongan.
- Komunikasi BMS.
- Lokasi pemasangan.
- Jumlah unit jika kapasitas perlu dikembangkan.
Dengan cara tersebut, baterai dipilih berdasarkan kondisi penggunaan yang nyata dan dapat dipadukan dengan desain PLTS secara lebih tepat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Berapa kapasitas energi baterai GINZA 51,2V 220Ah?
Energi nominalnya adalah 11,264 kWh, diperoleh dari 51,2 V × 220 Ah ÷ 1.000.
2. Berapa kapasitas energi Vision 48V 200Ah?
Energi nominal Vision V-LFP48200 adalah 9,6 kWh, sebagaimana tercantum dalam dokumen spesifikasi.
3. Apakah baterai 51,2V 220Ah lebih besar daripada 48V 200Ah?
Dari sisi energi nominal, ya. GINZA memiliki 11,264 kWh, sedangkan Vision memiliki 9,6 kWh. Selisihnya adalah 1,664 kWh atau sekitar 17,3% dari kapasitas nominal Vision.
4. Apakah kedua baterai dapat digunakan pada inverter yang sama?
Belum tentu. Periksa rentang tegangan, pengaturan pengisian dan pengosongan, arus, protokol komunikasi, model inverter, dan firmware. Konfirmasi dengan pemasok atau produsen sebelum pemasangan.
5. Berapa lama baterai dapat menyalakan beban 1.000 watt?
Dalam contoh artikel ini, dengan asumsi efisiensi inverter 90%, GINZA diperkirakan sekitar 8,6 jam pada DoD 85%, sedangkan Vision sekitar 6,9 jam pada asumsi DoD 80%. Hasil aktual dapat berbeda.
6. Apakah baterai dengan angka siklus lebih tinggi pasti lebih awet?
Tidak dapat dipastikan hanya dari angkanya. Kondisi pengujian dan kriteria akhir masa pakai harus sebanding. Pada lampiran ini, kondisi di balik angka siklus GINZA masih perlu dikonfirmasi.
7. Apakah IP65 berarti baterai bebas dipasang di luar ruangan?
Tidak otomatis. IP65 menjelaskan tingkat perlindungan enclosure berdasarkan pengujian tertentu. Lokasi dan cara pemasangan tetap harus mengikuti petunjuk produsen.
8. Apakah baterai dapat ditambah secara paralel?
Kedua dokumen mencantumkan kemampuan paralel, masing-masing hingga 20 unit untuk GINZA dan 16 unit untuk Vision. Pelaksanaannya harus mengikuti ketentuan produsen dan desain sistem yang sesuai.
Kesimpulan
Baterai GINZA LiFePO4 51,2V 220Ah dan Vision V-LFP48200 48V 200Ah memiliki karakteristik yang dapat memenuhi kebutuhan proyek yang berbeda.
GINZA menawarkan energi nominal 11,264 kWh, layar sentuh, antarmuka CAN/RS485/RS232, dan tingkat perlindungan IP65 menurut lembar spesifikasinya. Vision menawarkan energi nominal 9,6 kWh, komunikasi RS485, dua dry contacts, serta desain yang disebut sesuai untuk kabinet 19 inci.
Sebelum memilih, tentukan kebutuhan energi dan daya beban, lalu pastikan kesesuaian baterai dengan inverter, BMS, dan lingkungan pemasangan. Perbandingan siklus hidup juga perlu menggunakan kondisi pengujian yang lengkap dan sebanding.
Konsultasikan kebutuhan baterai LiFePO4 dan sistem PLTS hybrid Anda bersama DBSN Group melalui www.pjusolarcellindonesia.com. Siapkan informasi beban, lama backup yang dibutuhkan, serta model inverter agar rekomendasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan proyek.
Catatan interlink: Lima judul artikel pendukung sudah ditempatkan pada bagian yang relevan. Setelah artikel pendukung diterbitkan, tambahkan URL halaman masing-masing pada judul tersebut agar menjadi tautan internal yang aktif.